Halaman

Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2019

UPAYA POKMASWAS TELUK SALEH DALAM MENGURANGI AKTIVITAS DESTRUCTIVE FISHING

Part 1

Teluk Saleh memiliki potensi perikanan dan kelautan yang sangat besar, terutama potensi perikanan tangkap dan potensi pariwisata. Aktivitas perikanan tangkap di Teluk Saleh didominasi oleh perikanan sekala kecil dengan mayoritas nelayan merupakan penduduk kawasan pesisir Teluk Saleh. Selain perikanan pariwisata juga menjadi potensi yang perlu dikembangkan, dilihat dari banyaknya pulau-pulau kecil yang terdapat di Teluk Saleh yang dapat dikembangkan menjadi wisata diving, snorkeling, wisata pantai dan lain sebagainya.

Potensi yang besar membuat Teluk Saleh tidak luput dari ancaman yang dapat merusak sumber daya perikanan dan kelautan, ancaman yang paling nyata dan sering adalah masih ditemukannya nelayan menggunakan alat tangkap yang dapat merusak yaitu penggunaan bahan peledak (bom) dan racun ikan. perusakan ini dapat menyebabkan kerugian yang berdampak pada masyarakat nelayan, pelaku usaha, dan ekosistem perairan terutama ekosistem terumbu karang.




Ancaman bom dan racun ikan sangat berdampak bagi nelayan dibuktikan dari kurangnya hasil tangkapan nelayan dari tahun ketahun, semakin jauhnya nelayan menangkap ikan, rusaknya ekosistem terumbu karang dan masih terdengarnya suara ledakan bom di wilyah perairan Teluk Saleh. Untuk mengurangi kerusakan masyarakat nelayan yang berada didesa pesisir Teluk Saleh membentuk kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) disetiap Desa meraka yang didukung oleh pemerintah Desa dan pemerintah daerah.

Pokmaswas bertujuan untuk melakukan pemantauan dan pengawasan sumberdaya perikanan dan kelautan berbasis masyarakat. Di Teluk Saleh khususnya di Kabupaten Sumbawa, berkat kesadaran masyarakat nelayan sudah terbentuk 7 Pokmaswas di 6 desa yang berbeda yaitu Desa Kukin, Desa Batu Bangka, Desa Labuhan Kuris, Desa Labuhan Sangoro, Desa Teluk Santong, Desa Labuhan Jambu. Semua pokmaswas tergabung dalam Forum Komunikasi Pokmaswas Teluk Saleh. Harapanya adalah seluruh desa yang berada di pesisir Teluk Saleh baik di kabupaten Dompu dan kabupaten Sumbawa dapat menbentuk pokmaswas disetiap desanya dan bergabung dalam Forum Komunikasi Pokmaswas Teluk Saleh tujuanya agar koordinasi pengawasan antar pokmaswas dapat lebih efektif dan efisien.

Pokmaswas Teluk Saleh sangat aktif dalam melakukan patroli dari pertengahan tahun 2018-awal tahun 2019 pokmaswas telah melakukan 11 hari patroli rutin dan 6 hari patroli gabungan dengan aparat polairud, TNI AL, Dinas Kelatan dan Perikanan Provinsi NTB.   Selain patroli, Pokmaswas juga melakukan sosialisasi kepada nelayan, terhitung pokmaswas telah melakukan sosialisasi bahaya penggunaan bom dan racun sebanyak sembilan kali. Lokasi sosialisasi antara lain Dusun Prajak, Desa Labuhan Kuris, Desa Kukin, Desa Labuhan Jambu, Desa Teluk Santong, Desa Labuhan Sangoro dan Desa Labuhan Pidang. Dampak secara langsung dari kegiatan ini memang belum dirasakan, namun dengan adanya kegiatan rutin ini diharapkan nelayan pelaku bom dan potassium dapat sadar dan tidak lagi melakukan aktivitas tersebut selain melanggar hukum aktivitas penangkapan bom dan racun dapat merusak ekosistem. 

Jumat, 22 Desember 2017

Teluk Saleh, Masihkah Aquarium Dunia?

Pulau Putri merupakan salah satu pulau yang berada
dalam perairan Teluk Saleh
Teluk Saleh merupakan teluk yang terbesar di NTB, Teluk Saleh juga di juluki akuarium dunia. Teluk Saleh terletak di kabupaten Sumbawa dan kabupaten Dompu NTB. Terdapat 27 desa pesisir yang termasuk dalam kabupaten Sumbawa dan dompu. 27 desa tersebut mayoritas masyarakatnya adalah nelayan dan bergantung terhadap kondisi sumberdaya kelautan dan perikanan yang berada di perairan Teluk Saleh untuk memenuhi kehidupan mereka.



Potensi perikanan di perairan Teluk Saleh sebagai sumber
mata pencaharian masyarakat nelayan
Sumberdaya kelautan dan perikanan yang dimanfaatkan di Teluk Saleh antara lain, pariwisata, perikanan tangkap, perikanan budidaya, budidaya rumput laut, budidaya udang, budidaya mutiara dan masih banyak sumberdaya kelautan dan perikanan yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada diTeluk Saleh maupun masyarakat yang berada dari luar Teluk Saleh. Sumberdaya yang melimpah dan pemanfaatan yang tinggi mengakibatkan kondisi sumberdaya Teluk Saleh semakin lama semakin menurun. Dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakuakan Wildlife Conservation Society (2015-2017) ikan karang untuk jenis kakap dan kerapu mengalami tangkap berlebih, dibuktikan dari hasil tangkapan nelayan berkurang dan lokasi penangkapan nelayan semakin jauh. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan lippi (2005) diperairan pulau rakit kondisi terumbu karang dalam kondisi rusak dengan tutupan karang hidup hanya 27,79%. Sedangkan data terumbu karang di kawasan konservasi Taman Wisata Perairan Liang Ngali masih dalam kondisi baik,  dengan tutupan karang hidup adalah 50%.
Masih maraknya penggunaan bahan peledak di Teluk Saleh
dapat mengganggu ekosistem didalamnya
Rusaknya kondisi  sumberdaya tersebut disebabkan banyak faktor antara lain masih maraknya penggunaan bom dan potassium di perairan Teluk Saleh untuk menangkap ikan. Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB dari tahun 2006-2016 terdapat 25 kasus penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan 18 kasus dengan menggunakan potassium. Dari kondisi tersebut perlu adanya langkah yang nyata untuk mengurangi kerusakan yang berada di perairan Teluk Saleh untuk kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumberdaya kelautan dan perikanan Teluk Saleh. Selain masalah penggunaan bom dan potassium perairan Teluk Saleh juga terancam keindahannya dengan banyaknya sampah rumah tangga  yang dibuang langsung ke laut, limbah rumah tangga, serta limbah pertambangan emas rakyat dan limbah pertanian yang bermuara ke perairan Teluk Saleh, masih banyak lagi ancaman yang mengancam sumberdaya kelautan dan perikanan Teluk Saleh.
Dusun Labuhan Trata, merupakan salah satu dusun
yang masyarakatnya bergantung terhadap Teluk Saleh
Kondisi sumberdaya kelautan perikanan Teluk Saleh yang mulai menurun perlu dilakukan upaya-upaya mempertahankan Teluk Saleh sebagai akuarium dunia, untuk menuju kesana, perlu upaya dan kerja keras semua pihak untuk tetap menjaga kelestarian Teluk Saleh baik dari pemerintah, masyarakat, pengusaha, akademisi , lsm dan seluruh lapisan masyarakat yang peduli akan kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan Teluk Saleh. Jangan samapai Teluk Saleh hanya sebagai dongeng keindahan semata. Salam Biru!

Selasa, 09 Agustus 2016

Monitoring Hasil Tangkapan Ikan Kakap dan Kerapu Teluk Saleh




Pengambilan data ikan dengan pengambilan foto ikan
WCS adalah LSM yang bergerak di bidang konservasi dan lingkungan hidup. WCS mulai berkecimpung dalam perlindungan terhadap lingkungan hidup Indonesia sekitar tahun 1990-an. Pada tahun 2002, WCS mulai bergerak dalam perlindungan sumberdaya bahari di Indonesia. Beberapa wilayah kerja WCS antara lain di Sabang-Aceh, Taman Nasional Karimunjawa-Jawa Tengah, Minahasa Utara-Sulawesi Utara, serta NTB. Di NTB khususnya di Pulau Sumbawa WCS mendukung dalam program pengelolaan perikanan karang khususnya kakap dan kerpau secara berkelanjutan di Pulau Sumbawa. 
Untuk mendukung pengelolaan perikanan karang kakap dan kerapu yang berkelanjutan WCS pada tahun 2015 sudah melakukan survei social ekonomi untuk mengetahu profil perikanan di Pulau Sumbawa. Selain melakukan survei social ekonomi perlu dilakuakan monitoring hasil tangkapan ikan untuk menunjang pengelolaan perikanan karang kakap dan kerapu yang berkelanjutan. Tujuan dari monitoring hasil tangkapan ikan kakap dan kerapu adalah 1). Mengidentifikasi tingkat pemanfaatan ikan kerapu dan kakap di Teluk Saleh. 2). Mengindentifikasi tingkat keuntungan yang didapat oleh nelayan secara langsung dari aktifitas perikanan kakap dan kerapu. 3). Mengidentifikasi pola tekanan perikanan terhadap ekosistem yang disebabkan oleh aktifitas perikanan tangkap. 
Foto Ikan hasil tangkapan
Monitoring hasil tangkpan ikan nelayan dilakukan dengan metode sampling yaitu pengambilan data ikan dilakuakan selama 7 hari dalam 1 bulannya. Pengambilan data dilakukan di Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa yang terfokus pada 3 titik sampling yaitu Desa Labuhan Sumbawa, Desa Labuan Kuris dan Desa Labuan Jambu. Pengambilan data hasil tangkapan dilakukan di 3 lokasi tersebut bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan perikanan kakap dan kerapu yang berada di Teluk Saleh.  
Ikan hasil tangkapan nelayan
Dalam pengambilan data pendaratan ikan ada beberapa informasi yang harus di ambil antara lain adalah Tanggal pengambilan data, Lokasi pendaratan, Nama pengumpul ikan, Nama pemiliki perahu, Nama perahu, Alat tangkap yang digunakan, Lama melaut, Lokasi penangkapan, Kedalaman, Zonasi lokasi penangkapan, Kategori mesin, Jumlah ABK, Biaya operasional (BBM, es, umpan, dan lainnya), Nama ikan yang tertangkap, Berat hasil tangkapan, Jumlah individu ikan yang tertangkap dan Harga ikan. Dari informasi tersebut dapat dilakukan analisis data yang diinginkan seperti data spesies ikan mana saja yang mendapatkan tekanan lebih oleh aktivitas penangkapan, dapat memberi informasi tentang fluktuasi produksi perikanan di dalam satu area, sehingga kita dapat mengevaluasi apakah tipe manajemen yang kita pilih dapat meningkatkan produksi perikanan atau tidak dan masih banyak informasi yang dapat di keluarkan dari data yang di ambil.

Minggu, 29 Juni 2014

Potensi Perikanan Karang diperairan Sekotong

Kewajiban untuk mengelola perikanan sudah diamanatkan dalam Undang-undang perikanan No. 31/2004 diubah melalui Undang-undang No. 45/2009. Secara alamiah, pengelolaan sistem perikanan tidak dapat dilepaskan dari tiga aspek yang tida terpisahkan satu sama lain, yaitu : 1. Aspek sumberdaya dan ekosistemnya, 2. Aspek pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk kepentingan sosial ekonomi masyarakat; 3. Aspek kebijakan perikanan itu sendiri. 
Dalam hal ini, pengelolaan perikanan bertujuan untuk memberikan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat dan perlu menjaga dinamika ekosistem yang menjadi media hidup bagi sumberdaya ikan itu sendiri.

Wildlife Conservation Society - Indonesia Program(WCS-IP) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat melakukan identifikasi awal potensi perikanan karang di perairan Sekotong Lombok Barat untuk pengelolaan yang berkelanjutan. Dilaksanakan Pada bulan Februari sampai Juni 2014. Identifikasi awal dilakukan untuk mengetahui seberapa besar potensi ikan karang yang ada di perairan sekotong bertujuan agar pemanfaatan perikanan khususnya  ikan karang dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan berkelanjutan.

Identifikasi awal terdapat 6 desa yang banyak melakukan penangkapan ikan karang di perairan sekotong yaitu Desa sekotong Tengah, Desa Sekotong Barat, Desa Pelangan, Desa Batu Putih, Desa Buwun Mas dan Desa Gili Gede. Pelaku penangkapan ikan karang yang terbesar terdapat di desa Sekotong Barat dan desa Gili Gede. Penangkapan dilakukan diperaiaran Sekotong mulai dari sekitaran Gili Nanggu sampai dengan Teluk Sepi. Selain nelayan yang berada di kecamatan Sekotong penagkapan juga dilakukan oleh nelayan luar seperti nelayan dari Sumbawa dan Lombok Timur.
Nelayan lokal masih menggunakan alat yang sangat sederhana untuk menangkap ikan karang yaitu: Pancing Tangan (hand line), Pancing Rawe (long line) sampai 200 mata pancing dan menggunakan panah. Nelayan luar seperti Sumbawa menggunakan alat tangkap yang lebih dari nelayan lokal seperti jaring pukat, kompressor dan memiliki armada tangkap yang lebih modern dibanding nelayan lokal.   
Pancing Rawe (long line) dengan 200 mata pancingmerupakan alat tangkap yang biasa digunakan nelayan Sekotong
Panah juga merupakan alternatif alat tangkap yang digunakan nelayan sekotong
Jumlah nelayan yang menagkap ikan karang di kecamatan sekotong masih sedikit sekitar 30 orang itupun belum melakukan secara serius untuk ikan karang karena untuk menangkap ikan karang membutuhkan modal yang besar. Untuk 1 x trip nelayan membutuhkan modal rata-rata mencapai 200-500 rb yang dibelanjakan untuk umpan, makan dan bensin selama menangkap ikan.
Armada tangkap yang digunakan nelayan
Ketidakseriusan nelayan yang menagkap ikan karang diperairan sekotong merupakan suatu potensi yang besar.  Menurut penelitian WCS di perairan Lombok barat kususnya sekotong memiliki biomassa yang paling tinggi diantara kabupaten lainnya yaitu 818.43 kg.ha-1, kemudian kabupaten Lombok Utara dengan 508.9 kg.ha-1 dilanjuti kabupaten Lombok Timur 506.81 kg.ha-1 sedangkan yang paling sedikit adalah kabupaten Lombok Tengah adalah 288.08 kg.ha-1. Dari data tersebut Lombok Barat memiliki potensi yang sangat besar untuk ikan karang namun pemanfaatannya belum maksimal sehingga perlu dilakukannya pengelolaan agar pemanfaatan ikan karang di Lombok barat dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
Hasil tangkapan nelayan sekotong


Beberapa hasil tangkapan berupa ikan kue


Pembelian hasil tangkapan oleh pengepul
Menurut identifikasi awal di perairan sekotong mengalami kondisi dimana perairan mulai pulih kembali dari kerusakan yang disebabkan oleh banyaknya aktivitas pengeboman. Pulihnya perairan diperkuat dengan data WCS yang menunjukan banyak ditemukannya ikan karang dengan ukuran 5-10cm dan 15-20cm sedangkan dilombok barat sangat sedikit sekali ditemukan ikan karang yang berukan besar diatas 20cm. dari data ini menunjukan perairan Lombok barat mengalami pemulihan ekosistem terumbu karang.